Sumber foto: AFP/ISHARA S. KODIKARA/Bro
Mama Tangkas - Pasokan bahan pokok di Sri Lanka sudah mulai menipis. Selain itu, negara ini juga mengalami krisis valuta asing. Akhirnya pemerintah Sri Lanka mengumumkan keadaan darurat kekurangan pangan.
Dengan pengumuman tersebut, otoritas yang bertanggung jawab memiliki wewenang untuk menyita stok makanan dan menahan siapa pun yang menimbun bahan makanan. Wabah virus Corona membuat situasi semakin parah.
Cadangan devisa tidak cukup untuk membayar impor dalam tiga bulan
https://twitter.com/AFP/status/1432608042709782535?s=20
Sri Lanka sedang berjuang dengan krisis ekonomi. Cadangan devisa negara telah turun drastis dalam satu tahun terakhir ini untuk mengatasi krisis.
Melansir The Independent, dalam 18 bulan terakhir, cadangan devisa turun dua pertiga dan Juli lalu hanya sekitar US$2,8 miliar atau sekitar Rp. 39,8 triliun.
Cadangan devisa hampir tidak cukup untuk membayar impor selama tiga bulan. Udaya Gammapila, Menteri Energi mengatakan Sri Lanka tidak memiliki cukup uang untuk membayar impor bahan bakar.
Karena cadangan devisa terus menyusut, negara itu terhalang untuk membayar utangnya dan memaksanya untuk mengurangi impor bahan kimia pertanian, mobil, dan bahkan rempah-rempah.
Pengumuman peraturan darurat pangan
https://twitter.com/sunandavashisht/status/1432722632676454402?s=20
Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, Selasa (31/8) memerintahkan peraturan darurat pangan untuk memerangi penimbunan gula, beras, dan bahan pangan pokok lainnya.
Dia telah menunjuk seorang perwira tinggi Angkatan Darat sebagai Komisaris Jenderal Layanan Esensial untuk mengatur dan mengkoordinasikan pasokan beras, gula, dan barang-barang konsumsi lainnya.
Peraturan darurat pangan yang dibuat akan memberikan kewenangan kepada pejabat untuk menyita stok pangan milik pedagang dan menangkap orang yang menimbun bahan pangan pokok. Dengan begitu, pemerintah bisa memberikannya kepada masyarakat dengan harga yang ditetapkan dan terkendali.
Dalam sebuah pernyataan pers, Gotabaya mengatakan "pejabat yang berwenang akan dapat mengambil langkah-langkah untuk menyediakan bahan makanan penting dengan harga rendah kepada masyarakat dengan membeli stok bahan makanan penting termasuk beras, beras dan gula."
Wabah virus Corona memperburuk kondisi
https://twitter.com/ReutersBiz/status/1432781503465988098?s=20
Dengan semakin menipisnya cadangan devisa, bank-bank swasta sendiri juga kehabisan devisa dalam perjuangannya membiayai impor.
Merebaknya virus Corona yang melanda Tanah Air, turut berperan penting dalam memperdalam jurang krisis ekonomi.
Menurut Al Jazeera, gula, beras, bawang, dan kentang mengalami lonjakan harga yang signifikan. Sementara itu, orang-orang mengantri di luar toko untuk mendapatkan susu bubuk, minyak tanah, dan gas untuk memasak.
Bahkan, Sri Lanka telah menerapkan jam malam 16 hari karena peningkatan kasus COVID-19.
Menurut Worldometers, negara tersebut telah mencatat total 440.302 kasus infeksi virus. Mereka yang meninggal mencapai 9.185 orang. Kini, sekitar 200 nyawa terancam setiap hari akibat lonjakan kasus infeksi yang terus terjadi.
Pandemi Corona pada 2020 membuat perekonomian negara menyusut 3,6 persen. Impor kendaraan, minyak nabati dan kunyit, salah satu bahan pangan lokal yang penting telah dilarang untuk menghemat devisa. Bank Sentral Sri Lanka telah menaikkan suku bunga dalam upaya untuk menopang mata uang lokal.
