SELAMAT DATANG DI MAMATANGKAS.

Wednesday, September 1, 2021

Penjelasan Ilmiah soal Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'

 

Ilustrasi, sumber foto: womantalk.com


Mama Tangkas - Sepekan lalu, viral remaja laki-laki asal Probolinggo, Jawa Timur, yang menjadi korban pemerkosaan penyanyi wanita atau penyanyi dangdut. Ia yang masih di bawah umur mengaku pernah menjadi sasaran minuman beralkohol dan diperkosa selama tiga hari oleh pelaku.


Alih-alih berempati, mendengar kasus ini, banyak netizen yang menyalahkan korban atau victim blaming. Komentar yang dibuat sangat tajam. Mereka menyerang korban yang dinilai "mau-mau saja", mengatakan bahwa ia adalah orang yang beruntung, dan meragukan status "pemerkosaan" karena remaja laki-laki itu dinilai menikmati perbuatan pelaku.


Pernyataan terakhir tersebut dibenarkan oleh banyak netizen. Banyak warga +62 yang beranggapan bahwa perkosaan ini bukan atas dasar paksaan karena korban bisa ereksi. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini korban menikmati aksi pelaku.


Padahal anggapan itu salah. Berikut penjelasan ilmiahnya.


Organ intim pria dipenuhi ujung saraf sehingga peka terhadap sentuhan


Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, kita harus mengetahui seperti apa anatomi organ seksual pria. Area itu adalah salah satu bagian paling sensitif dari seluruh tubuhnya. Pasalnya, terdapat banyak ujung saraf di permukaan penis.


Sensitivitas penis umumnya memuncak saat anak laki-laki berada dalam masa pubertas atau remaja. Bahkan, dilansir Living Well, remaja laki-laki bisa sensitif untuk terhadap sentuhan sekujur tubuh mereka.


Kondisi ini membuat mereka sering mengalami gairah seksual yang tidak disengaja atau tidak diinginkan. Misalnya saat area organ intim secara tidak sengaja tersentuh, mengalami getaran saat berada di dalam kendaraan, saat memeriksakan alat kelamin ke dokter, atau bahkan saat memangku kucing.


Mengapa korban pemerkosaan masih bisa ereksi meski menolak?


Dari poin pertama, kita dapat menyimpulkan bahwa penis yang sedang ereksi atau tegang terkadang tidak dapat dikendalikan. Lantas pertanyaannya, mengapa seorang korban pemerkosaan bisa ereksi jika menolak tindakan pelakunya?


Secara psikologis, korban bisa saja menolak perbuatan pelaku. Namun ketika tubuh terus menerus distimulasi, penis akan menjadi ereksi meski korban tidak menginginkannya. Pasalnya, saat disentuh, hormon akan "memerintahkan" darah mengalir ke area tersebut, sehingga penis menjadi "tegang" tanpa sengaja.


Menurut studi tahun 2019 dari Criminal Law and Philosophy berjudul "Can a Woman Rape a Man and Why Does It Matter?", Ini menjelaskan bahwa pria lebih cenderung untuk tetap "tegang", menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka terangsang, dan bahkan ejakulasi selama pemerkosaan. Mekanismenya sama dengan perempuan yang mengalami lubrikasi saat menjadi korban pemerkosaan.


Seperti yang dinyatakan sebelumnya, ini adalah reaksi tubuh normal yang sulit dikendalikan, terutama saat seseorang mengalami pemaksaan, tidak berdaya, dan berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. Ini terasa membingungkan dan menakutkan bagi korban. Tubuhnya disentuh tanpa izin tetapi respon fisik yang dikeluarkan tidak sesuai dengan hati seseorang.


Rasa takut juga bisa membuat pria ereksi dan ejakulasi


Selain rangsangan yang diberikan pelaku, pria juga bisa mengalami ereksi saat ketakutan. Kondisi ini sering terjadi pada korban pemerkosaan. Sebuah laporan dalam Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law berjudul "Male Victims of Sexual Assault: Phenomenology, Psychology, Physiology" menjelaskan mengapa hal ini terjadi.


Pria dapat ejakulasi secara spontan saat mereka merasa takut, cemas, dan stres berat. Tubuhnya juga akan menunjukkan tanda-tanda gairah seperti terangsang, ereksi, jantung berdebar-debar, dan lain-lain. Apalagi saat mereka terancam dan dalam kondisi tidak bisa melawan.


Stereotipe dan toxic masculinity menyerang laki-laki ketika mereka mengalami pemerkosaan


Dua hal yang paling menyulitkan pria saat mengalami pemerkosaan adalah stereotip dan toxic masculinity. Ada beberapa label yang melekat pada kaum adam yang dianggap bertentangan dengan kasus pemerkosaan, di antaranya:


  • Pria dianggap selalu ingin berhubungan seks. Masyarakat merasa bahwa laki-laki tidak akan pernah menolak hal tersebut, sehingga korban dianggap beruntung dan harus berterima kasih kepada perempuan yang memperkosanya;

  • Laki-laki dipandang sebagai makhluk yang kuat, sehingga masyarakat menganggap pemerkosaan tidak mungkin baginya. Status "pemerkosaan" juga diragukan;

  • Seks merupakan sesuatu yang dilakukan oleh pria kepada wanita. Ini tentu saja keliru karena kedua belah pihak seharusnya memiliki peran yang sama;

  • Pria dianggap tidak kehilangan apapun saat diperkosa, berbeda dengan wanita. Padahal, siapapun yang menjadi korban pemerkosaan pasti akan mengalami trauma yang bisa merenggut seluruh nyawanya di kemudian hari.


Pikiran ini kemudian digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memvalidasi kejadian pemerkosaan yang dialami oleh laki-laki. Faktanya, semua korban kejahatan seksual menderita, merasakan sakit, dan kehilangan nyawa. Terlepas dari jenis kelamin mereka.


Menjawab pertanyaan netizen, mengapa korban tidak langsung melapor setelah diperkosa?


Selanjutnya, dalam kasus pemerkosaan remaja laki-laki di Probolinggo, korban baru dilaporkan tiga hari setelah kejadian. Ini digunakan oleh netizen untuk, sekali lagi, menyerang korban. Nyatanya, mereka tidak tahu apa yang terjadi.


Korban kekerasan seksual tidak selalu bersedia untuk berbicara atau melaporkan. Faktanya, pemerkosaan yang kamu lihat di berita, itu belum semuanya. Masih banyak kasus lain yang tidak terungkap karena korban tidak mau melaporkannya. Mengapa ini terjadi?


Pemerkosaan merupakan kejadian yang sangat traumatis bagi korbannya. Menurut publikasi Pennsylvania Coalition Against Rape, mereka akan merasa malu, sendirian, takut dihakimi oleh orang-orang di sekitar mereka, disalahkan oleh orang lain, ditanyai "pakai baju apa" untuk invalidasi pemerkosaan, atau bahkan diancam oleh pelaku.


Mereka juga butuh waktu lama untuk menenangkan diri dari trauma yang dialaminya. Itulah sebabnya korban perkosaan tidak selalu angkat bicara atau melaporkan hanya setelah beberapa hari, bulan, atau tahun berlalu.


Ereksi dan ejakulasi korban tidak berarti bahwa mereka menikmati pemerkosaan


Ereksi atau bahkan ejakulasi seringkali disalahartikan oleh pelaku dan masyarakat. Juga tidak berarti bahwa korban menikmati tindakan pemerkosaan. Nyatanya, sama sekali tidak. Perkosaan dalam bentuk apapun tidak pernah menyenangkan korban, apapun jenis kelaminnya.


Korban pemerkosaan seringkali menyalahkan respon tubuhnya yang tidak sesuai ekspektasi. Perpaduan rasa sakit, kebingungan, dan nafsu yang tidak diinginkan akan membuat korban merasa malu bahkan jijik dengan dirinya sendiri.


Oleh karena itu, victim blaming atau menyalahkan orang yang diperkosa tidak boleh dinormalisasi dan ditoleransi. Ini tidak hanya menyakiti korban, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat kita kurang empati terhadap orang lain.


Mulai sekarang, mari kita coba menempatkan diri pada "posisi" orang lain. Pemerkosaan terhadap laki-laki adalah nyata dan memang terjadi di luar sana, meskipun jarang dilaporkan. Jangan gunakan pengalaman menyakitkan ini untuk menghina dan menyalahkan korban. Kita sebagai masyarakat harus melindungi mereka dan membantu proses hukum agar para pelakunya mendapatkan sanksi yang sesuai.


Situs Bolatangkas OnlineAgen Bolatangkas OnlineJudi Bolatangkas TerpercayaMama Tangkas